Epidemiology

Thursday, 11 November 2021

Predictors and HRQOL with SF-36 for MDR-TB patients in Jambi, Indonesia [Original Article]

Background
Multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) is another problem in TB elimination. In 2018, 484,000 people worldwide developed tuberculosis that was resistant to rifampicin, and 78% of those had MDR-TB. Estimation of risk factors to detect MDR-TB. 

Available at: 

Nonparametric Statistics

STATISTICS TEXT BOOKS PDF

"Nonparametric Statistics is a short and sweet introduction to the five most familiar nonparametric location tests and associated confidence intervals and multiple comparisons. . . . This book is extremely limited in coverage, but none the worse for that. You won’t find anything on the Fisher Exact Test, or measures of association for the cases covered. What you will find is good, accurate, comprehensible accounts of location tests for two or more treatments. . . . The book is well-written throughout, with fewer than expected mistakes. . . . All in all, a good basic introduction to nonparametric tests, with few frills, as you would expect. The computer package comparisons sound very useful warning bells and are a welcome frill."
Download Klick here

Wednesday, 3 November 2021

Determinants of Pneumonia in Toddlers in Jambi City [Original Article]

Background: 
Pneumonia is an acute respiratory infection and the second leading cause of toddler deaths in Indonesia. Nutritional status, immunization status, and humidity in the house constitute risk factors for the incidence and prevalence of pneumonia.

Available at: 

Friday, 27 November 2020

Trial of IMCI Algorithm in Disease Detection Card in Suku Anak Dalam in Batanghari District, Jambi [Original Article]

Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) is one of management strategies for sick toddlers, in the form of curative and preventive efforts in order to overcome the toddler’s health problems in the Suku Anak Dalam (SAD) in Jambi Province.

Available at: 

https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas/article/view/19295

Monday, 13 May 2019

CACAR MONYET [Impetigo Bulosa]



CACAR MONYET atau Impetigo Bulosa adalah suatu kondisi kulit yang khas terjadi pada bayi baru lahir, dan disebabkan oleh infeksi bakteri, yang menampilkan bullae.
[1] Kondisi ini dapat disebabkan oleh toksin Eksfoliatif A.
[2] Infeksi superfisial piogenik yang terjadi dapat dibagi menjadi dua macam; Impetigo, dan impetigo non-bulosa impetigo. Impetigo bulosa disebabkan oleh Staphylococcus aureus, yang menghasilkan racun eksfoliatif, sedangkan impetigo non-bulosa disebabkan oleh Staphylococcus aureus atau Streptococcus pyogenes.
[3] Tiga puluh persen dari semua kasus impetigo yang terjadi terkait dengan impetigo bulosa. Impetigo bulosa pada bayi baru lahir, anak-anak, atau orang dewasa yang immunocompromised dan/atau mengalami gagal ginjal, dapat berkembang menjadi lebih parah dan bentuk umum disebut Staphylococcal scalded skin syndrome (SSSS). Tingkat kematian kurang dari 3% untuk anak-anak yang terinfeksi, tetapi dapat mencapai hingga 60% pada orang dewasa.


Tanda dan Gejala :
Impetigo bulosa dapat muncul di sekitar area popok, ketiak, atau leher. Bakteri menyebab produksi toksin yang akan mengurangi daya lekat antar sel (adhesi), menyebabkan lapisan atas kulit (epidermis) dan lapisan bawah kulit (dermis) menjadi terpisah. Vesikel dengan cepat membesar dan membentuk bullae yang melepuh lebih lebar dari 5 mm. Bullae juga dikenal sebagai Sindroma kulit terbakar stafilokokus. Gejala terkait lainnya adalah gatal-gatal, pembengkakan di kelenjar terdekatnya, demam, dan diare. Perlu dicatat bahwa terjadinya rasa sakit adalah sangat langka.
Efek jangka panjang: setelah koreng pada bulosa sudah terlepas, terjadinya jaringan parut adalah minimal. Efek jangka panjang yang mungkin adalah penyakit ginjal.

Etiologi :
Penularan dapat terjadi pada bangsal rumah sakit dan ruang perawatan anak, serta dapat ditularkan antar orang. Banyak juga terjadi melalui olahraga dengan kontak fisik. Oleh karena itu, disarankan agar pasien dapat membatasi sebanyak kontak dengan orang lain untuk membatasi penularan infeksi.

Penularan :
Setelah 48 jam penyakit ini dianggap tidak lagi menular dengan asumsi perawatan dengan antibiotik yang tepat telah diberikan.

Patogenesis :
Toksin eksfoliatif (racun pengelupas) adalah serin protease yang secara khusus mengikat dan membelah desmoglein 1 (Dsg1). Penelitian terdahulu memperkirakan bahwa racun pengelupas mengikat gangliosida, menyebabkan pelepasan protease oleh keratinosit yang bertindak sebagai superantigens dalam stimulasi sistem kekebalan kulit. Penelitian terbaru menyarankan adanya tiga macam racun pengelupas; yaitu ETA, ETB, dan ETD yang bertindak sebagai serin protease yang spesifik terhadap asam glutamat, dengan spesifisitas yang terkonsentrasi. Hasilnya adalah pembelahan pada Dsg1 manusia di situs yang unik setelah residu asam glutamat menyebabkan deaktivasi. Proteolisis dari ikatan peptida yang mengarah ke disfungsi Dsg1 dan desmosome, membuat dapat dipahami mengapa bulosa terbentuk, sehingga diketahui bahwa ikatan peptida adalah penting agar Dsg1 berfungsi yang tepat.

Diagnosis :
Mengamati penampilan fisik kulit, atau menyeka kultur lesi dari S. aureus. Penyekaan hidung dari anggota keluarga terdekat pasien diperlukan untuk mengidentifikasi apakah mereka pembawa asimtomatik dari S. aureus.

Pencegahan :
Sejak patogen umum yang terlibat dengan impetigo adalah bakteri alami yang ditemukan pada kulit, paling pencegahan (terutama pada anak-anak), ditargetkan tepat kebersihan, membersihkan luka, dan meminimalkan menggaruk (yaitu dengan menjaga kuku dipangkas dan pendek). Menghindari kontak dekat dan berbagi barang-barang seperti handuk dengan potensi individu yang terinfeksi juga dianjurkan.
[ Dapat juga dibaca di : Wikipedia ]

Sunday, 5 May 2019

KOTA JAMBI DALAM ANGKA 2018

KOTA JAMBI DALAM ANGKA 2018. Perkembangan Kota Jambi Tahun 2018 dapat disampaikan dalam sebuah publikasi yang diterbitkan oleh BPS Kota Jambi yang berisikan tentang berbagai informasi yang ada dalam wilayah Kota Jambi. Informasi yang tersaji meliputi potensi alam/pertanian, kependudukan, pemerintahan, dan informasi sosial ekonomi. Penyajian data selengkapnya bisa di DOWNLOAD DISINI

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Jambi Tahun 2018

Thursday, 2 May 2019

RISKESDAS 2018

Pengumpulan data Riskesdas yang dilakukan pada 300.000 sampel rumah tangga (1,2 juta jiwa) telah menghasilkan beragam data dan informasi yang memperlihatkan wajah kesehatan Indonesia. Data dan informasi ini meliputi Status Gizi; Kesehatan Ibu; Kesehatan Anak; Penyakit Menular; Penyakit Tidak Menular, Kesehatan Jiwa, dan Kesehatan Gigi Mulut; Disabilitas dan Cidera; Kesehatan Lingkungan; Akses Pelayanan Kesehatan; dan Pelayanan Kesehatan Tradisional. Hasil laporan RISKESDAS 2018 silahkan DOWNLOAD DI SINI

Wednesday, 24 April 2019

SURVEILANS DEMAM LASSA DAN EBOLA

DEMAM LASSA saat ini merebak di berbagai daerah di Nigeria, berdasarkan  data dan Nigeria Centre for Disease  Control (NCOC) pada minggu ke 1-18  tahun 2018 melaporkan kasus konfirmasi Demam Lassa sebanyak 423 (kematian 106), dan 10 kasus probable (10 kematian).  Sehubungan  dengan situasi tersebut, berdasarkan informasi yang disampaikan Kedutaan   Besar  RI  di  Abuja   Nigeria No. B-00090/Abujal180426 tanggal 26/04/2018, pemerintah  Nigeria  akan  melaksanakan pengawasan  ketat dan menjamin  tidak  akan ada rombongan haji yang terjangkit Demam Lassa.
Selain  kejadian di atas juga  terjadi  KLB penyakit  virus  Ebota di  Negara Demokratik Republik of  Congo   (ORC).   Kejadian   ini  merupakan KLB   yang   kesembilan   sejak ditemukannya penyakit virus Ebola di negara itu pada tahun 1976. Mulai  tgl 4 April sampai 13 Mei  2018 dilaporkan sebanyak  39  kasus,    termasuk  2  kasus  konfirmasi,  20  kasus probable (termasuk 18 kematian), dan 17 suspek penyakit virus Ebola.

Surveilans Epidemiologi Demam Lassa dan Ebola, dapat Anda DOWNLOAD DISINI.


Sumber: SE tentang Demam Lassa dan Penyakit Virus Ebola, Kementerian Kesehatan RI 2018-Ditjen PP dan PL; 

Sunday, 21 April 2019

DEMAM CHIKUNGUNYA

Demam Chikungunya merupakan salah satu penyakit potensial wabah, karena faktor kecepatan penyebaran sehingga menimbulkan keresahan dan menurunnya produktivitas pada penderita. Vektor penular penyakit Chikungunya adalah nyamuk Aedes spp. dan Aedes Albopictus. Sebagaimana kita ketahui, nyamuk ini juga merupakan penular Demam Berdarah Dengue (DBD).


Strategi utama pengendalian Demam Chikungunya antara lain dapat dilakukan, antara lain:
  1. Menggerakan dan memberdayakan masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan  Demam Chikungunya
  2. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan yang berkualitas 
  3. Meningkatkan sistem surveilans epidemiologi Demam Chikungunya
  4. Meningkatkan sumber daya dalam upaya pengendalian Demam Chikungunya
Etiologi
Virus Chikungunya adalah Arthopod borne virus yang ditransmisikan oleh beberapa spesies nyamuk. Hasil uji Hemaglutinasi Inhibisi dan uji Komplemen Fiksasi, virus ini termasuk genus alphavirus (“Group A” Arthropod-borne viruses) dan famili Togaviridae. Sedangkan DBD disebabkan oleh “Group B” arthrophod¬borne viruses (flavivirus).

Vektor Penular Chikungunya
Vektor utama penyakit ini sama dengan DBD yaitu nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. sebagaimana diketahui Nyamuk jenis ini mengalami metamorfosis sempurna, yaitu: telur – jentik (larva) – pupa – nyamuk. Stadium telur, jentik dan pupa hidup di dalam air. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik/larva dalam waktu ± 2 hari setelah telur terendam air. Stadium jentik/larva biasanya berlangsung 6-8 hari, dan stadium kepompong (Pupa) berlangsung antara 2–4 hari. Pertumbuhan dari telur menjadi nyamuk dewasa selama 9-10 hari. Umur nyamuk betina dapat mencapai 2-3 bulan.

Habitat Perkembangbiakan
Habitat perkembangbiakan vialah vektor ini pada tempat-tempat yang dapat menampung air, dengan habitat perkembangbiakan dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Tempat penampungan air (TPA) untuk keperluan sehari-hari, seperti: drum, tangki  reservoir, tempayan, bak mandi/wc, dan ember.
  2. Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari seperti: tempat minum  burung, vas bunga, perangkap semut, bak kontrol pembuangan air, tempat pembuangan air kulkas/dispenser, barang-barang bekas (contoh : ban, kaleng, botol, plastik, dll).
  3. Tempat penampungan air alamiah seperti: lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah pisang dan potongan bambu dan tempurung coklat/karet, dll.
Perilaku Nyamuk Dewasa   
Setelah keluar dari pupa, nyamuk istirahat di permukaan air untuk sementara waktu. Beberapa saat setelah itu, sayap meregang menjadi kaku, sehingga nyamuk mampu terbang mencari makanan. Nyamuk Aedes sp jantan mengisap cairan tumbuhan atau sari bunga untuk keperluan hidupnya sedangkan yang betina mengisap darah. Nyamuk betina ini lebih menyukai darah manusia daripada hewan (bersifat antropofilik). Darah diperlukan untuk pematangan sel telur, agar dapat menetas. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan perkembangan telur mulai dari nyamuk mengisap darah sampai telur dikeluarkan, waktunya bervariasi antara 3-4 hari.

Jangka waktu tersebut disebut dengan siklus gonotropik. Aktivitas menggigit nyamuk biasanya mulai pagi dan petang puncak aktifitas antara pukul 09.00-10.00 pagi dan 16.00-17.00 sore. Aedes aegypti mempunyai kebiasaan mengisap darah berulang kali dalam satu siklus gonotropik, untuk memenuhi lambungnya dengan darah. Dengan demikian nyamuk ini sangat efektif sebagai penular penyakit. Setelah mengisap darah, nyamuk akan peristirahat pada tempat yang gelap dan lembab di dalam atau di luar rumah, berdekatan dengan habitat perkembangbiakannya. Pada tempat tersebut nyamuk menunggu proses pematangan telurnya.

Setelah beristirahat dan proses pematangan telur selesai, nyamuk betina akan meletakkan telurnya di atas permukaan air, kemudian telur menepi melekat pada dinding-dinding habitat perkembangbiakannya. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik/larva dalam waktu ±2 hari. Setiap kali bertelur nyamuk betina dapat menghasilkan telur sebanyak ±100 butir. Telur itu di tempat yang kering (tanpa air) dapat bertahan ±6 bulan, jika tempat-tempat tersebut kemudian tergenang air atau kelembabannya tinggi maka telur dapat menetas lebih cepat.

Penyebaran
Kemampuan terbang nyamuk Aedes spp betina rata-rata 40 meter, namun secara pasif misalnya karena angin atau terbawa kendaraan dapat berpindah lebih jauh. Aedes spp tersebar luas di daerah tropis dan sub-tropis, di Indonesia nyamuk ini tersebar luas baik di rumah maupun di tempat umum. Nyamuk Aedes spp dapat hidup dan berkembang biak sampai ketinggian daerah ± 1.000 m dpl. Pada ketinggian diatas ± 1.000 m dpl, suhu udara terlalu rendah, sehingga tidak memungkinkan nyamuk berkembangbiak.

Faktor Risiko
Terdapat tiga faktor yang memegang peranan dalam penularan penyakit Chikungunya, yaitu: manusia, virus dan vektor perantara. Beberapa faktor penyebab timbulnya KLB demam Chikungunya adalah:
1.    Perpindahan penduduk dari daerah terinfeksi
2.    Sanitasi lingkungan yang buruk.
3.    Berkembangnya penyebaran dan kepadatan nyamuk (sanitasi lingkungan yang buruk)

Mekanisme Penularan
Virus Chikungunya ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes SPP Nyamuk lain mungkin bisa berperan sebagai vektor namun perlu penelitian lebih lanjut. Nyamuk Aedes tersebut dapat mengandung virus Chikungunya pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum demam sampai 5 hari setelah demam timbul. Kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada saat gigitan berikutnya. Di tubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 4-7 hari (intrinsic incubation period) sebelum menimbulkan penyakit.

Buku Pedoman Pengendalian Demam Chikungunya, Edisi 2, dapat Anda DOWNLOAD DISINI.

Sumber: Pedoman Pengendalian Demam Chikungunya, Edisi 2, Kementerian Kesehatan RI 2012-Ditjen PP dan PL; 

FAKTOR RISIKO HIPERTENSI

FAKTOR RISIKO HIPERTENSI
Hipertensi telah menjadi penyakit yang umum bagi banyak orang saat ini, apalagi bagi mereka yang tinggal di kawasan perkotaan. Hipertensi menjadi salah satu faktor penyebab stroke, serangan jantung, dan juga gagal ginjal. Dan akibat terburuk dari penyakit ini adalah kematian. Karena itu, jika bisa, penyakit ini harus dicegah. Hasil survey menunjukkan bahwa, baca jurnal di SINI

Dasar Epidemiologi

EVALUASI FORMATIF DASAR EPIDEMIOLOGI (PHJ123)
Pada dasarnya evaluasi formatif digunakan untuk mengukur sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap materi yang diajarkan pada pokok bahasan tersebut. Indikator untuk menentukan keberhasilan atau kemajuan mahasiswa dalam evaluasi formatif adalah penguasaan kemampuan yang telah dirumuskan dalam rumusan tujuan instruksional khusus (TIK) yang telah ditetapkan. Pembahasan Soal klik di SINI

Monday, 8 April 2019

Panduan Praktek Surveilans




Buku Panduan Praktek Surveilans Epidemiologi.
Praktikum surveilans epidemiologi adalah kegiatan praktik yang di lakukan di Puskesmas dengan kegiatan mengumpulkan, mengolah, menganalisis dan menyajikan data kasus/penyakit sehingga menjadi informasi. Informasi yang diperoleh lain dapat dipergunakan sebagai Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) terhadap terjadinya peningkatan kasus/wabah, sehingga dapat di jadikan informasi dalam pengambilan keputusan oleh pejabat yang berwenang (MDI, 2017).

Thursday, 28 March 2019

GERMAS Cegah Obesitas



GERAKAN MASYARAKAT HIDUP SEHAT; MENGHINDARI OBESITAS MERUPAKAN SALAH SATU UPAYA PENCEGAHAN TERHADAP RISIKO PENYAKIT TIDAK MENULAR DENGAN CARA PENERAPAN PEDOMAN GIZI SEIMBANG (MDI, 2017).

Friday, 15 June 2012

Control Of Communicable Diseases Manual

Control Of Communicable Diseases Manual

Dalam edisi ke – 17 dari Manual Pemberantasan Penyakit Menular ini, editor melakukan revisi secara luas memperbaharui banyak bab dan menambahkan bab-bab dan seksi-seksi baru untuk memenuhi kebutuhan para professional di bidang kesehatan di seluruh dunia yang semakin hari semakin meningkat.

Download Klik here

Thursday, 14 June 2012

Urinary Stone



RELATIONSHIP BETWEEN DRINKING WATER HARDNESS,
CALCIUM LEVEL AND URINE CALCIUM OXALATE SEDIMENT AMONG ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS

(A Case Study of Sidowangi, Subdistrict of Kajoran, District of Magelang)

M. Dody Izhar1, Hari Purnomo K2, Suhardi Darmoatmodjo3


ABSTRACT

Background: Water hardness containing calcium mineral (Ca2+) is supposed to increase absorption in intestinal lumen and calcium excretion (hyper-calciuria) of urine. Alkalic conditioned urine can cause changes of saturation concentration to become calcium supersaturation leading to the crystalization of calcium oxalate.

Objective: To identify the relationship between drinking water hardness, drinking and eating habit to calcium level and urine calcium oxalate sediment.

Method: The study was observational with cross sectional design. Examination analysis of drinking water hardness (mg/l), level of urine calcium (mg/dl) and calcium oxalate sediment of first/morning urine samples of 128 elementary school students (6-12 years old) was carried out using one-stage cluster random sampling technique at Sidowangi Subdistrict of Kajoran, District of Magelang, Central Java. Data of drinking and eating habit for bestial protein, vegetable protein, calcium and phospor, uric acid, oxalic acid and citric acid of the subject of the study were obtained from interview using questionnaires and food frequency forms. Data analysis used Stata version 8.0 program for windows at significance level. p<0.05.

Result: Average value and main deviation of drinking water hardness was 66.75 + 8.36, level of urine was 10.43+ 6.40 and there were 52 subjects (40.63%) with calcium oxalate crystal. The result of statistical analysis showed that drinking water hardness did not affect level of urine calcium (rs=0.004; p=0.967; POR=1,017; 95% CI=0.476-2.172) and calcium oxalate sediment (rs=-0.007; p=0.937; POR=0.972; 95% CI= 0.480-1,969). Drinking habit (p=0.007; POR=3.509; 95% CI=1.339-8.802) and eating habit of citric acid sources (adequate p=0.066; POR=3.037; 95%CI=0.931-9,903, less p=0.000; POR=10,996; 95% CI=3.533-34.218) were 2 predisposition variables of calcium oxalate sediment status.

Conclusion: Drinking water hardness had no effect to level of urine calcium and calcium oxalate sediment. Drinking habit and eating habit for citric acid sources were 2 most determining factors, i.e. as protection or inhibitor of calcium oxalate crystalization formation.

Keywords: water hardness, calcium level, calcium oxalate sediment


1. Health Office of Jambi Municipality, Jambi
2. Magister, Field Epidemiology and Training Program, Faculty of Medicine, Gadjah Mada University, Yogyakarta
3. Department of Internal Medicine, Faculty of Medicine, Gadjah Mada University, Yogyakarta

Wednesday, 13 June 2012

Analisis Statistik

Analisis Statistik : Konsep Dasar, Metode, Analisa dan Aplikasi 

Wednesday, 23 May 2012

MATA KULIAH : EPIDEMIOLOGI KEBIDANAN

Monday, 21 May 2012

Malaria Kehamilan

Malaria Kehamilan :
Penyakit infeksi menular oleh parasit dari genus Plasmodium, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles yang terjadi selama proses kehamilan ibu klik di sini

Friday, 18 May 2012

MATA KULIAH : SURVEILANS EPIDEMIOLOGI

Berikut ini Hand Out MK : Surveilans Epidemiologi :
1. Session : 0. Pengantar Epidemiologi
3. Session : 2. SKD_KLB
4. Session : 3. Konsep KLB
6. Session : 5. Besar Masalah KLB
8. Session : 7. Screening
9. Session : 8. Riset Epidemiologi
12. Session : 10. Rancangan Case Control
13. Session : 11. Rancangan Kohort

14. Session : 12-13. Ukuran Dampak Penyakit
15. Session : 14. Penyajian Data Epidemiologi

Tuesday, 14 February 2012

Surveilans DBD : Deteksi Dini

SURVEILANS DBD : Deteksi Dini

Pendahuluan
Penyakit akibat virus Dengue masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat sampai saat ini. Meskipun angka mortalitas cenderung menurun namun angka morbiditas tetap. Sepanjang tahun 2008 di Indonesia dilaporkan sebanyak 136.339 kasus dengan jumlah kematian 1.170 orang (CFR = 0,86 %, dan IR = 60,06 per 100.000 penduduk). Angka insidens (IR) tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (317,09 per 100.000 penduduk) dan terendah di Provinsi Maluku (0,00 per 100.000 penduduk), sedangkan angka kematian (CFR) tertinggi terdapat di Provinsi Jambi (3,67 %).
Penyebab penyakit ini sudah dikenal sejak lama yaitu virus Dengue yang termasuk famili Flaviviridae dan ada 4 serotipe yang diketahui yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Semua serotipe virus Dengue ini ditemukan bersirkulasi di Indonesia. Infeksi virus Dengue pada manusia sudah lama ditemukan dan menyebar terutama di daerah tropik pada abad 18 dan 19 seiring dengan pesatnya perkembangan perdagangan antar benua. Vektor penyebar virus Dengue yaitu Aedes aegypti pun ikut menyebar bersama dengan kapal niaga tersebut. Pada saat terjadi kejadian luar biasa (KLB) beberapa vektor lain seperti Aedes albopictus, Ae.polynesisensis, Ae. scutellaris complex ikut berperan.
Klasifikasi kasus dan berat penyakit
Sekarang ini disepakati bahwa dengue adalah suatu penyakit yang memiliki presentasi klinis bervariasi dengan perjalanan penyakit dan luaran (outcome) yang tidak dapat diramalkan.
Diterbitkannya panduan World Health Organization (WHO) terbaru di tahun 2009 lalu, merupakan penyempurnaan dari panduan sebelumnya yaitu panduan WHO 1997. Penyempurnaan ini dilakukan karena dalam temuan di lapangan ada hal-hal yang kurang sesuai dengan panduan WHO 1997 tersebut. Diusulkan adanya redefinisi kasus terutama untuk kasus infeksi dengue berat. Keberatan lain dari panduan WHO 1997 adalah karena penyusunannya banyak mengambil rujukan pada kasus infeksi dengue di Thailand, yang walaupun sangat berharga, tetapi tidak dapat mewakili semua kasus di belahan dunia lain yang memiliki perbedaan-perbedaan. Sering juga ditemukan kasus DBD yang tidak memenuhi ke empat kriteria WHO 1997 yang dipersyaratkan, namun terjadi syok8. Sehingga disepakatilah panduan terbaru WHO tahun 2009.
Klasifikasi kasus yang disepakati sekarang adalah :
1. Dengue tanpa tanda bahaya (dengue without warning signs),
2. Dengue dengan tanda bahaya (dengue with warning signs), dan
3. Dengue berat (severe Dengue)
TULISAN TERKAIT TOPIK
Kriteria dengue tanpa/dengan tanda bahaya :
Dengue probable :
  • Bertempat tinggal di /bepergian ke daerah endemik dengue
  • Demam disertai 2 dari hal berikut :
  1. Mual, muntah
  2. Ruam
  3. Sakit dan nyeri
  4. Uji torniket positif
  5. Lekopenia
  • Tanda bahaya adalah :
  1. Nyeri perut atau kelembutannya
  2. Muntah berkepanjangan
  3. Terdapat akumulasi cairan
  4. Perdarahan mucosa
  5. Letargi, lemah
  6. Pembesaran hati > 2 cm
  7. Kenaikan hematokrit seiring dengan penurunan jumlah trombosit yang cepat
Dengue dengan konfirmasi laboratorium (penting bila bukti kebocoran plasma tidak jelas)

Kriteria dengue berat :
  • Kebocoran plasma berat, yang dapat menyebabkan syok (DSS), akumulasi cairan dengan distress pernafasan.
  • Perdarahan hebat, sesuai pertimbangan klinisi
  • Gangguan organ berat, hepar (AST atau ALT ≥ 1000, gangguan kesadaran, gangguan jantung dan organ lain)
Untuk mengetahui adanya kecenderungan perdarahan dapat dilakukan uji tourniquet, walaupun banyak faktor yang mempengaruhi uji ini tetapi sangat membantu diagnosis, sensitivitas uji ini sebesar 30 % sedangkan spesifisitasnya mencapai 82 %.

Patogenesis dan patofisiologi
Patogenesis DBD masih belum jelas betul. Berdasarkan berbagai data epidemiologi dianut 2 hipotesis yang sering dijadikan rujukan untuk menerangkannya. Kedua teori tersebut adalah the secondary heterotypic antibody dependent enchancement of a dengue virus infection yang lebih banyak dianut, dan gabungan efek jumlah virus, virulensi virus, dan respons imun inang.
Virus dengue masuk kedalam tubuh inang kemudian mencapai sel target yaitu makrofag. Sebelum mencapai sel target maka respon immune non-spesifik dan spesifik tubuh akan berusaha menghalanginya. Aktivitas komplemen pada infeksi virus dengue diketahui meningkat seperti C3a dan C5a mediator-mediator ini menyebabkan terjadinya kenaikan permeabilitas kapiler celah endotel melebar lagi. Akibat kejadian ini maka terjadi ekstravasasi cairan dari intravaskuler ke extravaskuler dan menyebabkan terjadinya tanda kebocoran plasma seperti hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi pleura, asites, penebalan dinding vesica fellea dan syok hipovolemik.
Kenaikan permeabilitas kapiler ini berimbas pada terjadinya hemokonsentrasi, tekanan nadi menurun dan tanda syok lainnya merupakan salah satu patofisiologi yang terjadi pada DBD.

Gambaran Klinis
Gambaran klinis penderita dengue terdiri atas 3 fase yaitu fase febris, fase kritis dan fase pemulihan.
A. Pada fase febris,
Biasanya demam mendadak tinggi 2 – 7 hari, disertai muka kemerahan, eritema kulit, nyeri seluruh tubuh, mialgia, artralgia dan sakit kepala. Pada beberapa kasus ditemukan nyeri tenggorok, injeksi farings dan konjungtiva, anoreksia, mual dan muntah. Pada fase ini dapat pula ditemukan tanda perdarahan seperti ptekie, perdarahan mukosa, walaupun jarang dapat pula terjadi perdarahan pervaginam dan perdarahan gastrointestinal.
B. Fase kritis,
Terjadi pada hari 3 – 7 sakit dan ditandai dengan penurunan suhu tubuh disertai kenaikan permeabilitas kapiler dan timbulnya kebocoran plasma yang biasanya berlangsung selama 24 – 48 jam. Kebocoran plasma sering didahului oleh lekopeni progresif disertai penurunan hitung trombosit. Pada fase ini dapat terjadi syok.
C. Fase pemulihan,
Bila fase kritis terlewati maka terjadi pengembalian cairan dari ekstravaskuler ke intravaskuler secara perlahan pada 48 – 72 jam setelahnya. Keadaan umum penderita membaik, nafsu makan pulih kembali , hemodinamik stabil dan diuresis membaik.

Dengue Berat
Dengue berat harus dicurigai bila pada penderita dengue ditemukan :
1. Bukti kebocoran plasma seperti hematokrit yang tinggi atau meningkat secara progresif, adanya efusi pleura atau asites, gangguan sirkulasi atau syok (takhikardi, ekstremitas yang dingin, waktu pengisian kapiler (capillary refill time) > 3 detik, nadi lemah atau tidak terdeteksi, tekanan nadi yang menyempit atau pada syok lanjut tidak terukurnya tekanan darah).
2. Adanya perdarahan yang signifikan
3. Gangguan kesadaran
4. Gangguan gastrointestinal berat (muntah berkelanjutan, nyeri abdomen yang hebat atau bertambah, ikterik)
5. Gangguan organ berat (gagal hati akut, gagal ginjal akut, ensefalopati/ensefalitis, kardiomiopati dan manifestasi tak lazim lainnya.

Diagnosis
Langkah penegakkan diagnosis suatu penyakit seperti anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang tetap berlaku pada penderita infeksi dengue. Riwayat penyakit yang harus digali adalah saat mulai demam/sakit, tipe demam, jumlah asupan per oral, adanya tanda bahaya, diare, kemungkinan adanya gangguan kesadaran, output urin, juga adanya orang lain di lingkungan kerja, rumah yang sakit serupa.
Pemeriksaan fisik selain tanda vital, juga pastikan kesadaran penderita, status hidrasi, status hemodinamik sehingga tanda-tanda syok dapat dikenal lebih dini, adalah takipnea/pernafasan Kusmaul/efusi pleura, apakah ada hepatomegali/asites/kelainan abdomen lainnya, cari adanya ruam atau ptekie atau tanda perdarahan lainnya, bila tanda perdarahan spontan tidak ditemukan maka lakukan uji torniket. Sensitivitas uji torniket ini sebesar 30 % sedangkan spesifisitasnya mencapai 82 %.
Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan hematokrit dan nilai hematokrit yang tinggi (sekitar 50 % atau lebih) menunjukkan adanya kebocoran plasma, selain itu hitung trombosit cenderung memberikan hasil yang rendah.
Diagnosis konfirmatif diperoleh melalui pemeriksaan laboratorium, yaitu isolasi virus, deteksi antibodi dan deteksi antigen atau RNA virus. Imunoglobulin M (Ig M) biasanya dapat terdeteksi dalam darah mulai hari ke-5 onset demam, meningkat sampai minggu ke-3 kemudian kadarnya menurun. Ig M masih dapat terdeteksi hingga hari ke-60 sampai hari ke-90. Pada infeksi primer, konsentrasi Ig M lebih tinggi dibandingkan pada infeksi sekunder. Pada infeksi primer, Imunoglobulin G (Ig G) dapat terdeteksi pada hari ke -14 dengan titer yang rendah (<1:640), sementara pada infeksi sekunder Ig G sudah dapat terdeteksi pada hari ke-2 dengan titer yang tinggi (> 1 :2560) dan dapat bertahan seumur hidup.
Akhir-akhir ini dikembangkan pemeriksaan Antigen protein NS-1 Dengue (Ag NS-l) diharapkan memberikan hasil yang lebih cepat dibandingkan pemeriksaan serologis lainnya karena antigen ini sudah dapat terdeteksi dalam darah pada hari pertama onset demam. Selain itu pengerjaannya cukup mudah, praktis dan tidak memerlukan waktu lama. Dengan adanya pemeriksaan Ag NS-1 yang spesifik terdapat pada virus dengue ini diharapkan diagnosis infeksi dengue sudah dapat ditegakkan lebih dini.
Penelitian Dussart dkk (2002) pada sampel darah penderita infeksi dengue di Guyana menunjukkan Ag NS-1 dapat terdeteksi mulai hari ke-0 (onset demam) hingga hari ke-9 dalarn jumlah yang cukup tinggi. Pada penelitian ini didapatkan sensitivitas deteksi Ag NS-1 sebesar 88,7% dan 91 % sedangkan spesifisitas mencapai 100%, dibandingkan terhadap pemeriksaan isolasi virus dan RT-PCR dengan kontrol sampel darah infeksi non-dengue20. Penelitian lainnya di Singapura pemeriksaan NS1- antigen secara Elisa memberikan sensitivitas sampai 93,3 %.

Indikasi rawat inap
Penderita infeksi Dengue yang harus dirawat inap adalah seperti berikut. Bila ditemukan tanda bahaya, keluhan dan tanda hipotensi, perdarahan, gangguan organ (ginjal, hepar, jantung dan nerologik), kenaikan hematokrit pada pemeriksaan ulang, efusi pleura, asites, komorbiditas (kehamilan, diabetes mellitus, hipertensi, tukak petik dll), kondisi social tertentu (tinggal sendiri, jauh dari fasilitas kesehatan, transportasi sulit).
TULISAN TERKAIT TOPIK
24 Buletin Jendela Epidemiologi, Volume 2, Agustus 2010

 
Design by Epidemiology Themes | Bloggerized by M. Dody Izhar - Premium Blogger Themes | Field Epidemiology Training Program